Dari Acara Rembuk Stunting: Kunci Penanganan Koordinasi dan Kolaborasi Semua Pihak
Sepit (sepit.desa.id): Butuh koordinasi dan kolaborasi semua pihak untuk mempercepat penanganan stunting. Kolaborasi lintas sektor dinilai upaya maksimal agar intervensi kebijakan dan anggaran soal stunting tepat sasaran.
Hal ini menjadi kesimpulan dari acara rembuk stunting yang diselenggarakan oleh Pemerintah Desa (Pemdes) di Aula Kantor Desa, Kamis (11/09/2025).
Acara ini dihadiri oleh Camat Keruak M. Azhar, S.Pd, Kepala Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) Keruak, L.M. Jauhari, Kanit B3AKB Kecamatan Keruak, Kepala Desa Sepit Muhammad Hasmawadi, Ketua BPD Ahmad Busyairi, beserta tamu undangan lainnya.
Orang Juga Melihat: Wakil Bupati Lotim Terpesona Dengan Desa Sepit yang Cantik
Dalam kesempatannya, Camat Keruak, M. Azhar, S.Pd mengatakan, permasalahan stunting tidak hanya ditingkat desa, namun sudah menjadi isu nasional. Pemerintah desa, kata Azhar bisa mengintervensi lewat program yang terukur.
”Mudah-mudahan Desa Sepit menjadi contoh bagi desa lain terkait rembug stunting ini, baik dari perencanaan, pelaksanaanm dan evaluasi,” harap Azhar.
Stunting masih menjadi permasalahan kesehatan yang dihadapi anak-anak Indonesia. Pasalnya, prevalensi atau angka kejadian stunting di Indonesia menurut hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) masih berada di kisaran 24,4 persen.
Kepala BLUD Kecamatan Keruak L.M. Jauhari memberikan saran dan rekomendasi terkait penanganan stunting. Menurutnya, berapapun anggaran yang digelontorkan, kalau tida spesifik (pemetaan) makan hasilnya akan kurang maksimal. ”Penanganan stunting ini butuh waktu yang panjang dan lama. Maka kita bahasakan pencegahan saja,” terangnya.
Bagaimana cara mencegahnya?. Dengan konvergensi yakni terkoordinasi, kolaborasi, dan kerjasama. Semua stakeholder kata Jauhari, harus terlibat. Sehingga program nantinya bisa terpadu, sehingga stunting ini bisa dicegah.
”Semua potensi yang ada di desa dihadirkan saat rembug ini, misalnya anggota dewan kita (dari Desa Sepit),” ujarnya.
Baca Juga : Siap-Siap MTQ ke-31 Segera Digelar, Semua Dewan Hakam dari Luar Desa
Beberapa pencegahan bisa dilakukan melalui pemberian PMT dan ASI. PMT ini, kata Jauhari bisa dievaluasi. Apakah dikonsumsi oleh ibu hamil KEK, balita BGM , atau dikonsumsi oleh anggota keluarga lain. Karena itu, usahakan PMT jangan dalam bentuk mentah supaya fokus ke sasaran. ”Makanya dari pusat sudah membaca itu (PMT tidak tetap sasaran), makanya untuk ibu hamil yang berisiko diberi makanan jadi,” tandasnya.
Kegiatan rembuk stunting ini dirasa penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang masalah stunting dan mendorong partisipas aktif dalam upaya pencegahan.
Pantuan Warta Desa, acara tersebut berlangsung lancar. Di sesi diskusi, sejumlah tamu undangan banyak memberikan masukan dan pandangannya terkait stunting. Mulai dari BPD, PKK, Karang Taruna hingga pendamping desa. (Datu Temelak)
Yuk Isi Kuisoner Penilaian Kepuasan Masyarakat Untuk Pelayanan Pemerintah Desa Sepit, Klik Disini Untuk Mengisi.